Malaria Capai Hampir 300 Kasus per Bulan, Puskesmas Mapurjaya Perkuat Pelayanan Lapangan
TmkInfo.Id – Kasus malaria masih menjadi salah satu penyakit yang dominan ditemukan di wilayah kerja BLUD Puskesmas Mapurujaya, Kabupaten Mimika. Angka kasus malaria tercatat rata-rata hampir mencapai 300 kasus per bulan.
Kepala BLUD Puskesmas Mapurujaya, Onna Bunga, mengatakan selain malaria, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga masih menjadi salah satu penyakit yang banyak ditemukan, terutama di tengah perubahan kondisi cuaca.
“Kalau 10 besar penyakit, masih sementara berdominan adalah malaria. Kedua, ISPA,” kata Onna saat ditemui di Hotel Grand Tembaga, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, kondisi lingkungan, perubahan cuaca serta keterbatasan akses terhadap air bersih menjadi sejumlah faktor yang turut memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
“Angka malaria yang terakhir ini dia sekitar hampir 300-an per bulan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat di sejumlah wilayah masih menggunakan air dari kali yang berada di sekitar rumah karena belum tersedianya akses air bersih yang memadai.
“Jadi memang masih tinggi, karena itu sudah yang kita lihat bahwa situasi lingkungan pertama. Kedua dengan cuaca, air bersih yang tidak ada. Jadi masyarakat itu juga masih menggunakan air yang ada di kali di belakang rumah. Nah itu juga salah satu faktor yang mencetus mereka,” jelasnya.
Selain kondisi lingkungan, kepadatan anggota keluarga dalam satu rumah juga dinilai dapat meningkatkan risiko penularan malaria.
“Dalam satu rumah itu biasa sampai 5 KK. Nah ini yang membuat salah satu faktor yang penularan malaria bisa terjangkit untuk satu rumah,” katanya.
Untuk menekan kasus penyakit tersebut, Puskesmas Mapurujaya kembali memperkuat pelayanan langsung ke masyarakat. Petugas dijadwalkan turun ke lapangan untuk memberikan penyuluhan sekaligus pelayanan pengobatan di kampung-kampung.
“Yang sekarang kami lagi turun, mungkin teman-teman mulai besok mereka sudah turun ke lapangan langsung. Sekalian penyuluhan dan pengobatan tiap kampung,” ungkap Onna.
Pelayanan dilakukan dengan metode door to door atau mendatangi masyarakat dari rumah ke rumah. Waktu pelayanan juga disesuaikan dengan aktivitas masyarakat setempat.
“Kami tidak bisa untuk perharinya, karena kalau teman-teman turun lapangan itu kami door-to-door. Dari rumah ke rumah yang biasanya kami lakukan,” ujarnya.
Menurut Onna, pada kampung-kampung tertentu petugas tidak dapat melakukan pelayanan pada pagi hari karena sebagian besar masyarakat sedang bekerja atau mencari nafkah.
“Jadi kami biasanya turun di sore hari. Ada kampung-kampung tertentu yang kita tidak bisa turun di pagi hari, karena rata-rata masyarakatnya mencari,” katanya.
Di sisi lain, program pemberian makanan tambahan (PMT) yang dilaksanakan sejak Juni hingga September 2026 disebut turut meningkatkan kunjungan masyarakat ke Posyandu.
“Ada peningkatan, itu yang tadi saya sampaikan. Kalau ada makanan tambahan yang diadakan di Posyandu, itu pasti banyak yang datang. Jadi kami di situ bisa menjaring mereka,” kata Onna.
Ia menjelaskan, peningkatan kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan berdasarkan pendekatan siklus hidup, mulai dari bayi hingga kelompok lanjut usia.
“Jadi dari angka kelahiran sampai lansia. Jadi angka kelahiran dari lansia itu yang kita bisa jaring di situ. Untuk semua pelayanan, karena ini sudah pelayanan siklus hidup yang harus kita lakukan di Pos Kesmas untuk ke Posyandu-Posyandu,” jelasnya.
Selain malaria, ISPA juga menjadi perhatian Puskesmas Mapurujaya. Onna menyebut perubahan cuaca, kondisi panas, serta kabut menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gangguan pernapasan.
“Kalau ISPA itu karena cuaca. Nah cuaca apalagi ini cuaca panas ya. Kemarin apalagi dengan kabut. Itu juga salah satu penyebab,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya penggunaan masker, terutama karena ISPA dapat menular melalui percikan saat seseorang batuk.
“Apalagi ISPA itu penularannya cepat. Dengan batuk itu kan bisa menularkan ke orang yang ada di sekitar kita,” ujarnya.
Kebiasaan merokok dan penggunaan tungku di dalam rumah juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan ISPA. Onna mengakui perubahan kebiasaan masyarakat membutuhkan proses dan edukasi yang dilakukan secara berulang.
“Memang kita selalu sosialisasi untuk pencegahan merokok. Tapi ya itu sudah kita tidak bisa secara tiba-tiba harus merubah kebiasaan mereka,” katanya.
Menurutnya, tenaga kesehatan akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat, sementara penerapannya tetap bergantung pada kesadaran masing-masing individu.
“Tapi perlahan-lahan lah kita selalu memberikan edukasi. Apakah nanti mereka lakukan atau tidak itu sekarang tergantung dari kepribadian masyarakat,” pungkasnya. (*)






