PT KBV Targetkan Empat Kali Pengiriman Minyak Sawit Mentah Dari Mimika hingga Akhir Tahun
TMKInfo.Id Timika – Aktivitas industri kelapa sawit di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mulai memasuki tahap pengembangan baru. PT Karya Bella Vita (KBV) menargetkan melakukan empat kali pengiriman minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) hingga akhir 2026 setelah berhasil melakukan pengiriman perdana dari Pelabuhan Pomako, Timika.
Pengiriman perdana tersebut dilakukan pada Juli 2026 dengan membawa 604 ton minyak sawit mentah yang dikemas dalam 28 kontainer menuju Surabaya, Jawa Timur. Pengiriman ini menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan industri kelapa sawit KBV di wilayah Mimika.
Manager Pabrik PT Karya Bella Vita, Hartanto, membenarkan adanya pengapalan perdana tersebut. “Ia benar ada pengapalan perdana Juli kemarin” tuturnya. Ia juga menyebutkan perusahaan sedang berencana menyiapkan pengiriman lanjutan dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, aktivitas produksi pabrik saat ini masih dalam tahap pengembangan dan belum berjalan penuh. Keterbatasan pasokan tandan buah segar (TBS) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kapasitas produksi.
“Belum (100 persen beroperasi). Seminggu baru dua sampai tiga kali produksi, sekali produksi kurang lebih 200 ton TBS ” jelasnya.
PT Karya Bella Vita mengelola kawasan perkebunan kelapa sawit di wilayah Iwaka, Kabupaten Mimika, setelah mengambil alih pengelolaan lahan eks PT Pusaka Agro Lestari (PAL) yang sebelumnya mengalami persoalan hingga dinyatakan pailit.
Selain menjalankan aktivitas perkebunan, KBV juga sedang membangun fasilitas pabrik pengolahan kelapa sawit di area perkebunannya yang berada di Jalan Trans Nabire, Kabupaten Mimika.
Pengembangan industri kelapa sawit ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan aktivitas ekonomi berbasis perkebunan di Mimika. Dengan mulai bergeraknya produksi dan distribusi minyak sawit mentah, KBV menargetkan penguatan rantai industri dari perkebunan hingga pengolahan hasil produksi.
Ke depan, peningkatan produksi masih bergantung pada ketersediaan bahan baku TBS serta kesiapan fasilitas pendukung agar operasional pabrik dapat berjalan lebih optimal. (*)






