Kabut Asap Selimuti Timika, Aktivitas Penerbangan Berpotensi Terganggu
TMKInfo.id — Kabut asap mulai menyelimuti Timika dan sejumlah wilayah disekitarnya. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Selatan, khususnya Kabupaten Merauke.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Stevan, mengatakan hasil pemantauan satelit menunjukkan jumlah titik panas di Papua Selatan mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, terpantau sekitar 3.000 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang dan sekitar 200 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
“Titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang mencapai 3.000 titik, sedangkan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 200 titik,” ujar Stevan saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026).
Ia menjelaskan, kondisi angin saat ini turut membawa dampak terhadap penyebaran asap. Angin yang bergerak dari timur hingga tenggara mendorong asap dari kawasan Merauke menuju wilayah pesisir selatan Papua.
Sebaran asap tersebut tidak hanya terpantau di Timika. Kondisi serupa juga berpotensi dirasakan di sejumlah wilayah lain, termasuk Agats, Kabupaten Asmat, hingga Kaimana di Papua Barat.
Di Timika, keberadaan asap menyebabkan jarak pandang mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi aktivitas penerbangan di Bandar Udara Mozes Kilangin, khususnya pada waktu pagi ketika jarak pandang cenderung lebih terbatas.
“Jarak pandang berada di bawah 2.000 meter (2 km). Untuk pesawat berbadan besar, kondisi ini dapat memicu penundaan penerbangan (delay) atau pengalihan pendaratan (divert) ke bandara lain sambil menunggu visual membaik,” jelas Stevan.
Meski jarak pandang menurun, keputusan operasional penerbangan tetap mengacu pada standar keselamatan penerbangan serta koordinasi antara maskapai dan Air Traffic Control (ATC).
BMKG sendiri secara berkala menyampaikan informasi mengenai kondisi cuaca dan jarak pandang kepada pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam proses pendaratan maupun keberangkatan pesawat.
Stevan memperkirakan kondisi kabut asap masih berpotensi terjadi hingga akhir Oktober 2026. Salah satu faktornya adalah pola angin monsun timur yang masih berlangsung, ditambah aktivitas karhutla di wilayah sumber asap yang belum seluruhnya berakhir.
“Peralihan dari monsun timur ke monsun barat diprakirakan baru terjadi pada November hingga Desember. Selama angin masih bertiup dari timur dan karhutla terus berlangsung, asap diprakirakan tetap bertahan,” tuturnya.
Selain persoalan kabut asap, kondisi kekeringan di Papua juga masih perlu diwaspadai seiring pengaruh El Nino. Kondisi tersebut diperkirakan dapat memperpanjang periode kering hingga tahun depan.
Sementara potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, dan petir diperkirakan mulai meningkat ketika memasuki periode peralihan musim, sekitar akhir Oktober hingga November.
Untuk kondisi laut, BMKG melaporkan tinggi gelombang di Laut Arafuru bagian luar muara berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter. Berbeda dengan wilayah tersebut, kondisi perairan di sekitar dermaga dan pelabuhan relatif lebih tenang dengan tinggi gelombang sekitar 0,1 hingga 0,5 meter.
Stevan juga menyebut kawasan pesisir seperti Poumako berpotensi mengalami konsentrasi asap yang lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan. Vegetasi yang cukup rapat di kawasan pesisir membuat partikel asap lebih mudah tertahan dan bertahan di sekitar permukaan.
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap meningkat. Penggunaan masker juga dianjurkan saat harus beraktivitas di ruang terbuka.
Masyarakat juga diminta mengantisipasi dampak kekeringan dengan menggunakan air bersih secara bijak selama kondisi kering masih berlangsung. (*)






